Ketua Umum PBNU : Jangan Sampai Muktamar NU Nanti Membebani Pemerintah, Kita Kumpulkan Koin

Sabtu, (01/02/2020)

Jakarta  (BPKP NEWS) – Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar gawe besar yakni Muktamar Ke-34 pada 22-27 Oktober 2020 di Lampung. Dalam pelaksanaan Muktamar tersebut, NU bertekad meneguhkan kemandiriannya, termasuk dalam hal pembiayaan Muktamar.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan, NU tidak mau membebani siapa pun, termasuk mengajukan proposal ke pemerintah dalam mendanai pelaksanaan Muktamar nanti.

“Kita tidak mau membebani siapa pun. Mari kita belajar mandiri dengan cara kolekan koin. Ibu-ibu rumah tangga kalau ada sisa belanjanya bisa memasukkan Koin Muktamar,” ujar Kiai Said saat peringatan Harlah ke-94 NU di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (31/1/2020) malam.

Melalui Wirausaha, Wapres Ajak Santri Ikut Atasi Kemiskinan
Masa Depan Serba Digital, Terkoneksi Internet, dan Otomatis

Hingga saat ini, sejak dimulai pengumpulan Koin Muktamar selama hampir lima bulan, telah terkumpul dana hingga sekitar Rp4 miliar lebih. Angka tersebut belum termasuk yang masuk secara spontanitas pada puncak Peringatan Harlah ke-94 NU pada Jumat malam tersebut.

“InsyaAllah sampai Oktober nanti bisa terkumpul Rp50 miliar. InsyaAllah tanpa proposal tahu jadi. Ini sudah terbukti. Kita bangun Kampus Unisia Rp30 miliar di Parung (Bogor) sama sekali saya tak menyebarkan proposal,” tuturnya.

Sementara itu, dalam Peringatan Harlah ke-94 NU di Kantor PBNU, sejumlah tokoh yang hadir menyalurkan sumbangan untuk Muktamar. Di antaranya Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menyumbangkan Rp150 juta, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah Rp15 juta, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid Rp100 juta, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar Rp50 juta, LKNU Rp50 juta, Nur Hayati Abdul Qodir Said Aqil Rp25 juta, Pagar Nusa Rp100 juta, Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas Rp99 juta, Ketua NU Care-Lazisnu Ajat Sudrajat Rp50 juta, Lakpesdam NU Rp50 juta, Pagar Nusa Rp100 juta, Tenaga Ahli PKB Rp30 juta, mantan ketua KPU Juri Ardiantoro Rp100 juta, Wasekjen PBNU Ulil Abshar Hadrawi Rp100 juta, Rektor UNU Maksum Machfoed Rp100 juta, Bu Nyai Miftah Rp25 juta, dan hamba Allah Rp1 miliar.

Menariknya, sumbangan yang masuk tidak hanya berupa uang. Ada pula yang berupa barang kebutuhan pokok seperti beras, kopi, telur, bebek, ayam. Seperti PCNU Brebes yang menyumbangkan 10.000 butir telur asin.

Kiai Said berpesan kepada panitia muktamar agar segera bekerja keras, seperti berkoordinasi secara intensif dengan panitia daerah. Ia berharap kepada panitia agar muktamar berjalan lancar. “Saya berpesan agar panitia mulai besok langsung bekerja keras, berkoordinasi dengan panitia lokal, terutama dalam hal keamanan. Semoga semuanya sukses,” kata Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Sebagaimana diketahui, Muktamar Ke-34 NU akan dilaksanakan pada 22-27 Oktober 2020 di Lampung dengan mengusung tema “NU Mandiri, Indonesia Bermartabat.” Untuk menyukseskan perhelatan tertinggi di organisasi terbesar di Indonesia ini, panitia menggulirkan program Koin Muktamar. Koin Muktamar merupakan terobosan dalam upaya membangun kemandirian NU dan tidak bergantung kepada siapa pun terkait semua kebutuhan Muktamar NU.

Siapa pun yang ingin berpartisipasi pada Koin Muktamar ini dapat melakukannya melalui jalur offline dan online. Partisipasi melalui offline adalah dengan cara konvensional, yaitu memasukkan uang ke kotak Koin Muktamar. Sementara melalui online relawan dapat melakukannya dengan banyak cara, yaitu transfer ke rekening NU Care-LAZISNU atau lewat aplikasi NU Cash.

Dalam kesempatan itu, Kiai Said juga secara resmi mengukuhkan panitia muktamar ke-34 NU melalui penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai Ketua Steering Committee (SC) dan Ketua PBNU H Robikin Emhas sebagai Ketua Organizing Committee (OC).

Sementara itu, Wakil Presiden yang juga Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengaku senang NU bisa menuju pada kemandirian. “Saya senang sekali NU menuju mandiri. Kalau ada kegiatan itu tidak menunggu, mana kendaraannya, mana uang sakunya sebelum ada kegiatan. Orang NU bergerak langsung dengan mobilnya sendiri, motornya sendiri, sepeda sendiri, pakai kakinya sendiri, ini perlu kita bangkitkan kembali untuk menuju kemandirian,” tuturnya.

Menurut Kiai Ma’ruf Amin, gerakan NU harus diluruskan kembali supaya tidak melenceng, yakni kembali kepada jalurnya (khittah). “Kita luruskan jalur yang apa yang dilakukan para pendiri. Kemudian semangatnya dibangkitkan lagi untuk mengembangkan NU. Akidahnya, cara berpikirnya, kemudian pembangunan ekonomi umatnya dan diperbaharui harakah-nya, melalui metode cara-cara baru, melalui komunikasi digitalisasi, mekanisme organisasi baru, bukan ajaran tapi gerakannya, bergerak ke depan ini,” tuturnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.