POLITICS OF FEAR

Jakarta.Bpkpnews.com

Menyimak pemberitaan minggu ini tentang Cadar dan Celana Cingkrang , bahwa banyak yang berpendapat citra politik bulan pertama pemerintahan baru sudah keluar dari makna negara demokrasi pada arti yang sebenarnya.

Politik saat ini terkesan memberikan rasa tak nyaman bahkan menakutkan, hingga muncul istilah *”politics of fear”*

Istilah tersebut di lontarkan kembali oleh Prof Dr azyumardi Azra . Politik ketakutan mungkin bisa dipahami secara sederhana sebagai upaya menggunakan atau memanipulasi perasaan terancam masyarakat untuk kepentingan melanggengkan kekuasannya. Definisi ini ada benarnya juga. Tetapi patut dicermati karakter utama politik ketakutan tidak terletak pada tujuan pelaku, tetapi lebih pada karakter ancaman yang dinarasikan oleh pelaku.

Ketakutan menciptakan suasana panik dan ” sense of urgency ” yang seolah olah menuntut orang atau sekelompok orang harus mengambil langkah segera. Logika untuk bertindak cepat membunuh akal karena pertimbangan rasional dianggap bisa memberi peluang bagi realisasi ancaman.
Model model seperti itu sepertinya sudah umum terjadi termasuk di Yayasan atau lembaga pendidikan , apalagi jika lembaga tersebut membawahi unit unit usaha pendidikan seperti kampus , sekolah , madrasah sampai pondok pesantren yang cukup lumayan menghasilkan .

Sebagai contoh ketika sebuah amal usaha itu maju , bayaran SPP siswa itu di hitung secara akal itu lumayan mahal tetapi tetap saja kesejahteraan guru dan karyawan sulit sekali meningkat di lembaga pendidikan tersebut , maka suara suara pengelolaan dana yang baik sebagai kritik kepada Pimpinan dan pengelola lembaga , wajar saja ada yang menyuarakan dari guru dan karyawan .

Disini jalan pintas Politics of fear di mainkan oleh ( oknum ) Pimpinan Yayasan atau lembaga pendidikan dengan alasan penegakkan disiplin atau tata tertib pada unit usaha di bawahnya

Biasanya dalam pidato ( oknum ) pimpinan tersebut maupun ketua bidang yang membawahi unit usaha , guru dan karyawan , ada selipan kata kata dan itu selalu di ulang ulang

“Jika Tidak bisa kami bina maka kami binasakan “

“Jika sudah tidak betah bekerja di sekolah ini , pintu lebar untuk mengundurkan diri di persilahkan”

Walaupun kalimat kalimat tersebut di sampaikan oleh para oknum pimpinan sambil guyon atau seolah olah bercanda di depan forum

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.